Pelanggaran HAM dibalik Peristiwa G30S/PKI

Kematian satu orang adalah sebuah tragedi, tetapi kematian jutaan orang adalah statistik –
Joseph Stalin

            Sesuai yang kita pelajari selama ini  dalam buku-buku sejarah di sekolah, tragedi 30 September 1965 merupakan momentum puncak dari gerakan yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia yang bertujuan untuk menggoyang pemerintahan yang sah Republik Indonesia pada saat itu dengan cara mengudeta pemerintahan hingga terjadi tragedi yang mengakibatkan tewasnya jenderal-jenderal TNI pada saat itu.

Tapi yang perlu kita ketahui bahwa sejarah yang ada dalam buku-buku pelajaran tersebut adalah salah satu dari beberapa versi mengenai  terjadinya sebuah peristiwa yang puncaknya pada tanggal 30 September 1965 atau bahkan pada tanggal tersebut baru saja dimulai rentetan peristiwa yang cukup panjang selama beberapa bulan bahkan tahun setelah itu. Hal ini perlu dipahami karena sejarah adalah kisah yang ditulis oleh pemenang sejarah, banyak versi dari sebuah kisah pada masa lalu yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mana sebuah peristiwa pada masa lalu itu dilihat dan oleh siapa peristiwa itu diceritakan. Perlu pisau analisis yang tajam untuk memahami sejarah yang ada agar dapat kita cari apa yang sebenarnya terjadi mendekati kebenaran yang sesungguhnya sehingga sangat penting bagi kita untuk mendengar dan mempercayai apa yang terjadi pada masa lalu itu hanya dari satu sumber saja, perlu kita padukan dan kita tarik kesimpulan setelah kita menggali dari banyak versi.

Terlepas dari banyaknya versi tentang apa yang sebenarnya pada peristiwa G30S/PKI tersebut, apabila kita melihat dari sudut pandang pelanggaran HAM yang terjadi perlu disoroti bahwa pasca peristiwa tersebut telah terjadi pembantaian besar-besaran di hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali Papua karena pada saat itu belum merupakan wilayah Indonesia. Belum jelas berapa angka korban pembantaian yang mengatasnamakan menjaga keutuhan NKRI dari bahaya paham komunisme tersebut. Banyak peneliti telah berusaha mencari berapa angka sebenarnya dari peristiwa yang dianggap sebagai pelanggaran HAM terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Ratusan ribu orang bahkan mencapai angka satu juta orang lebih yang diduga anggota PKI, anggota gerakan komunis atau minimal memiliki afiliasi dengan paham komunis di seluruh wilayah yang ada dieksekusi, disiksa, dipenjara tanpa diadili dan terjadi bentuk-bentuk pelanggaran HAM lain selama kurun waktu hampir beberapa bulan pasca G30S/PKI. Bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan ini hingga sekarang belum terkuak secara jelas siapa yang mendalanginya.

Sebuah konflik yang diduga sengaja diciptakan di tengah-tengah masyarakat akibat adanya friksi yang timbul di masyarakat dan diduga karena faktor politiklah kemudian gesekan kecil yang ada di tengah masyarakat itu kemudian disiram dengan minyak dan terjadilah benturan yang sangat keras. Pelanggaran HAM yang mayoritas dilakukan oleh rakyat sendiri menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, meluasnya isu-isu yang dilemparkan bercerita tentang kekejaman PKI yang mengancam integritas bangsa yang kemudian membuat rakyat terbakar kemarahannya akan secara tidak terkendali terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap anggota dan mereka yang diduga terkait gerakan komunis baik dari PKI sendiri ataupun ormas underbow PKI.

Tetapi selama tiga puluh tahun lebih upaya mencari kebenaran sejarah tentang upaya mencari pelaku dibalik peristiwa tersebut tertutup. Hanya ada satu sejarah yang diketahui mengenai peristiwa itu yakni sejarah versi pemerintah, pemerintah yang memiliki kepentingan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Kini perlahan upaya penelusuran mencari kebenaran sejarah mulai diungkap walaupun banyak saksi dan pelaku sejarah pada peristiwa itu kini telah tiada dan susah untuk ditemukan, atau mungkin akibat doktrin yang melekat selama tiga puluh tahun lebih akan versi sejarah yang penuh kepentingan pemerintah agar rakyat tidak tahu tersebut membuat memperbincangkannya masih dianggap sesuatu yang tabu oleh beberapa kalangan. Padahal sejatinya memperbincangkannya adalah dalam rangka mencari kebenaran sejarah dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sehingga pelanggaran HAM yang terjadi dapat ditelusuri, korban maupun keluarganya dapat juga dapat hidup dengan layak, dan pelakunya apabila masih ada dapat diadili dan dimintai pertanggung jawaban. Sebuah usaha yang harus terus dilakukan oleh generasi sekarang maupun di masa depan untuk terus menggali lebih dalam peristiwa tersebut agar nantinya jangan sampai aib bangsa Indonesia yakni saling membantai sesama bangsa terulang kembali.  Karena efek pelanggaran HAM pada masa lalu kenyataannya hingga hari ini masih berbekas dan masih dirasakan bahkan oleh keluarga yang ditinggalkannya. Semangat yang cukup sederhana tetapi sarat makna yakni menagih janji pemerintah untuk menegakkan HAM dan menjamin keadilan bagi rakyatnya, perlu untuk kita catat bahwa menagih pertanggung jawaban pemerintah sebagai penguasa yang harusnya wajib melindungi rakyatnya sendiri dari bentuk kesewenang-wenangan dari siapapun sangat penting untuk dilakukan karena apabila keadilan sudah benar-benar ditegakkan maka kebenaran tak lagi diperlukan.

 

Tinggalkan Balasan