Hemat Energi dengan Memanfaatkan Angkutan Umum

Yogyakarta dan Surakarta adalah dua kota budaya yang memiliki banyak kemiripan dan banyak kaitan dari sejarah, latar belakang, budaya warganya dan lain sebagainya. Walaupun dipisahkan jarak kurang lebih sejauh 60 kilometer dan berbeda Provinsi tak membuat kaitan kedua kota ini renggang atau sepi. Misalnya banyak masyarakat yang asalnya atau tempat tinggal aslinya di Surakarta dan sekitarnya tetapi dia menghabiskan aktivitas sehari-harinya di Yogyakarta begitu pula sebaliknya, baik untuk belajar sebagai mahasiswa, bekerja, atau sekedar bolak-balik karena ada urusannya lebih banyak di salah satu kota.

Bisa dikatakan ada timbal balik yang dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kehidupan di dua kota budaya yang berbeda tersebut.  Padatnya arus lalu lintas berpindahnya orang, barang, maupun urusan tentu tak bisa dipisahkan dari sarana penghubung diantara keduanya yakni alat transportasi. Ada banyak pilihan yang bisa kita pilih dari Yogyakarta ke Surakarta ataupun sebaliknya walaupun hanya melalui jalur darat. Kendaraan pribadi maupun umum sama-sama memiliki kelebihannya masing-masing.

Masyarakat yang dikatakan diawal tadi sebagai masyarakat dengan kehidupan di dua kota bukanlah sekedar memberikan istilah, saya tidak ingin mengatakan itu sebagai komuter, karena komuter sendiri atau yang diserap menjadi penglaju dalam bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja atau  berkegiatan di kota lain dan kembali ke kota asalnya setiap hari karena faktor mahalnya biaya sewa tempat tinggal atau tingginya harga rumah di kota tempat ia bekerja atau beraktivitas. Bukan komuter karena untuk harga sendiri dari biaya sewa rumah, biaya makan dan biaya hidup lainnya di kedua kota ini adalah sama atau tidak jauh berbeda sehingga pun masyarakat yang sebenarnya bisa dikatakan komuter karena setiap hari kembali ke kotanya tidak bisa dikatakan komuter lagi. Tetapi ada keunikan dimana di kedua kota ini akan memberi kesan yang bisa dikatakan seimbang bagi yang merasakan bagaimana hidup di dua kota ini, termasuk saya. Takdirlah yang membuat saya terpaksa memiliki rasa sebagai penduduk kedua kota ini, di Yogyakarta saya sebagai pendatang dalam rangka belajar, di Surakarta saya sebagai warga asli. Tetapi yang saya rasakan ada kenyamanan yang terasa di kota yang saat itu saya berada disana dan kerinduan akan kota yang satu lagi, kedua perasaan nyaman dan rindu itu seimbang porsinya meskipun untuk kota yang berbeda. Entah saya sedang di Yogyakarta ataupun di Surakarta, mungkin diantaranya tersimpan rindu dan kenyamanan yang dibalut oleh kenangan di tiap sisi Yogyakarta maupun Surakarta.

Bepergian Surakarta dan Yogyakarta maupun sebaliknya adalah hal yang sudah sangat biasa sejak saya diterima kuliah di Yogyakarta. Bahkan pernah bolak-balik lebih dari sekali dalam sehari pernah saya lakukan untuk beberapa urusan. Mode transportasi favorit dan menurut saya yang terbaik sejauh ini adalah dengan angkutan umum kereta api. Ada beberapa kereta api relasi Yogyakarta dan Surakarta yang tersedia ditambah kereta jarak jauh yang melewati keduanya. Saya tak menyangka akan begitu memfavoritkan transportasi umum jenis kereta ini, karena sejujurnya saya baru menggunakan mode transportasi umum di akhir tahun kedua saya kuliah di Yogyakarta karena sebelumnya saya selalu menggunakan kendaraan pribadi yaitu motor bebek pemberian orang tua saya sejak SMA dulu. Ada kisah dibalik saya yang awalnya selalu menggunakan kendaraan pribadi kemudian sekarang saya sangat menghindari kendaraan pribadi kecuali bila sangat terpaksa dan beralih ke kendaraan umum. Pada suatu hari ketika saya pulang ke Surakarta menggunakan motor ada truk pasir kosong yang dikendarai sopirnya dengan sangat kencang, ada yang mengatakan bahwa truk pasir apabila terisi penuh jalannya sangat lambat bahkan lebih lambat dari sepeda onthel tetapi bila kosong maka akan lebih ugal-ugalan dari bis-bis Jawa timuran yang terkenal nekat. Kembali ke cerita tadi, Truk pasir kosong tersebut ketika berjalan kemudian menyerempet saya pada bagian belakang saya dan membuat saya terhempas kehilangan kendali atas motor yang saya naiki dan hampir menabrak bangunan di pinggir jalan, pada saat itu saya merasa disinilah mungkin saya akan mati karena saat itu dalam kecepatan tinggi mencapai lebih dari 70 kilometer perjam dalam posisi motor tidak dapat dikendalikan, dan mengarah ke bangunan pinggir jalan. Saya berpikir saya akan menabrak bangunan dan akan terjadi kecelakaan, tetapi saat ini saya merasa ada sesuatu yang tiba-tiba membuat motor saya stabil kembali dan bisa dikendalikan di detik-detik menjelang menabrak bangunan. Jantung saya berdegup sangat kencang saat itu, belum pernah saya rasakan sebelumnya, trauma saya rasakan ketika itu tetapi yang saya ingat pertama adalah sebuah kampanye hemat energi sederhana yang saya lihat di Internet, isinya tentang ajakan menggunakan transportasi umum. Ketika saya mencoba berpikir, persentase yang kecil dibanding kendaraan pribadi dalam hal kemungkinan kecelakaan bila kita menggunakan angkutan umum menjadi salah satu latar belakang kampanye hemat energi tersebut.

Kampanye hemat energi memang banyak bentuknya, dari yang sederhana menuntut kesadaran individu hingga yang masif dilakukan bersamaan serentak sedunia. Sederhanapun banyak macamnya dari kampanye hemat air, hemat listrik, hingga hemat BBM. BBM merupakan salah satu penggerak di abad yang telah melewati fase-fase dimana mesin mulai memberikan fasilitas untuk menunjang kehidupan manusia. Perlu kita ketahui bahwa hemat energi perlu untuk diinisiasi dari kita sendiri, dari hal yang sederhana misalkan usahakan menggunakan angkutan umum. Angkutan umum di Indonesia memang belum memadai layaknya di negara-negara maju, tetapi setidaknya dengan semangat yang kita miliki untuk memulai menggunakan angkutan umum maka kita berharap semangatnya akan menyebar ke lingkungan sekitar kita. Dan dari situlah muncul kekuatan dimana akan dianggap menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dan dapat kita wujudkan bersama untuk energi yang lebih hemat dan kehidupan yang lebih hebat. Dengan banyak manfaat yang mungkin tidak bisa kita rasakan langsung dari segi keamanan, tepat waktu, kenyamanan dalam menggunakan angkutan umum harapannya bisa menjadi penarik minat untuk berkendara dengan kendaraan umum. Walaupun kita sadar masih banyak kekurangan tetapi dengan semangat bersama membenahi dan menggunakan angkutan umum maka kita yakin akan segera ditingkatkan pelayanan dan semakin nyaman digunakan agar kita makin bisa menghemat banyak energi.

Tinggalkan Balasan